Catatan Seorang Mahasiswa Biasa

Yudhi private website

CatatanQ

Hubungan Manusia Dengan Pendidikan

Posted on October 24, 2010 at 2:16 AM

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengansesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral,intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yangditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Allah Yang Maha Pencipta sebagai tujuanakhir. Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, “Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidikterhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yangutama.

Dalam tujuan Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan ditujukan untuk menghasilkanmanusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No. 2 tentang Sistem PendidikanNasional (Sisdiknas) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, yaitu manusia yang beriman danbertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh,cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehatjasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanansosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat.Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional(UUSPN) dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990. Selain pendidikan dipusatkan untuk membinakepribadian manusia, pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat.

Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah : Sebagai salah satu syarat dalam bidang akademik sebagai bahan materi ujian Menambah wawasan bagi mahasiswa dalam hal ilmu sosial sehingga kita sebagai manusai adalah insal sosial yang tak luput dari bantuan orang lain Sebagai bahan referensi mendatang guna untuk keperluan yang lebih lanjut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Manusia Sebagai Mahluk Sosial Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial, susila, dan religius.Sifat kodrati manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila, dan religii harus dikembangkan secaraseimbang, selaras, dan serasi. Perlu disadari bahwa manusia hanya mempunyai arti dalam kaitannya denganmanusia lain dalam masyarakat. Manusia mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusialainnya. Tanpa ada manusia lain atau tanpa hidup bermasyarakat, seseorang tidak dapat menyelenggarakanhidupnya dengan baik.

Guna meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang formal,informal maupun nonformal. Dalam kenyataannya, manusia menunjukkan bahwa pendidikan merupakanpembimbingan diri sudah berlangsung sejak zaman primitif. Kegiatan pendidikan terjadi dalam hubunganorangtua dan anak.

John A. Laska, mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut : Education is one of the most important activities in which human beings engange. It is by means of theeducative process and its role intransmitting the cultural heritage from one generation to the next thathuman societies are able to meintein their existence. But education does more than just help us to keep thekind of society we already have; it is also one of the major ways in which people try to change or improvetheir societies…..

Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu Sebagai makhluk individu yang menjadi satuan terkecil dalam suatu organisasi atau kelompok, manusiaharus memiliki kesadaran diri yang dimulai dari kesadaran pribadi di antara segala kesadaran terhadap segalasesuatu. Kesadaran diri tersebut meliputi kesadaran diri di antara realita,sel f -respect,sel f -narci sme, egoisme,martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagisel f -real i sat i on.

Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakaninstingtif belaka. Manusia yang biasa dikenal dengan Homo sapiens memiliki akal pikiran yang dapatdigunakan untuk berpikir dan berlaku bijaksana. Dengan akal tersebut, manusia dapat mengembangkanpotensi-potensi yang ada di dalam dirinya seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan pengembangan potensi-potensi yang ada, manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhlukciptaan Tuhan yang paling sempurna.

Perkembangan manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap yang memakan waktu puluhan ataubahakan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan dalam menjadikan manusia semakinberkembang. Perkembangan keindividualan memungkinkan seseorang untuk mengmbangkan setiap potensiyang ada pada dirinya secara optimal.

Sebagai makhluk individu manusia mempunyai suatu potensi yang akan berkembang jika disertai dengan pendidikan. Melalui pendidikan, manusia dapat menggali dan mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Melalui pendidikan pula manusia dapat mengembangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya danmenerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia itusendiri.

Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untukbersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungandengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusiaselanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidupdalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalamarti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaliguswatak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harusrela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlahperbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Padazaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.

Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingindiungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusiamemerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya.Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi denganorang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat.

Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebihbaik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kantmengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididikmaka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkanoleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikanmemberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.

Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani. Pengembangan manusia sebagai makhluk Susila Aspek kehidupan susila adalah aspek ketiga setelah aspek individu dan sosial. Manusia dapat menetapkantingkah laku yang baik dan yang buruk karena hanya manusia yang dapat menghayati norma-norma dalamkehidupannya.

Dalam proses antar hubungan dan antaraksi itu, tiap-tiap pribadi membawa identitas dan kepribadian masing-masing. Oleh karena itu, keadaan yang yang cukup bermacam-macam akan terjadi berbagai konsekuensitindakan-tindakan masing-masing pribadi.

Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturantersebut dibuat untuk menjadikan manusia menjadi lebih beradab. Menusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan membawa mereka menjadi lebih baik. Selain aturan-aturan norma, manusia juga memerlukan pendidikan yang dapat digunakan sebagai saranamencapai kemakmuran dan kenyamanan hidup. Pendidikan dapat menjadikan manusia seutuhnya. Denganpendidikan, manusia dapat mengerti dan memahami makna hidup dan penerapannya.

Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia yang bersusila, karena hanya dengan pendidikankita dapat memanusiakan manusia. Melalui pendidikan pula manusia dapat menjadi lebih baik daripadakeadaan sebelumnya. Dengan pendidikan ini, manusia juga dapat melaksanakan dengan baik norma-normayang ada dalam suatu masyarakat. Manusia akan mematuhi norma-norma yang ada dalam masyarakat jikadiberikan pendidikan yang tepat.

Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada tepat tidaknya suatupendidikan mendidik seorang manusia mentaati norma, nilai dan kaidah masyarakat. Jika tidak makamanusia akan melakukan penyimpangan terhadap norma-norma yang telah disepakati bersama olehmasyarakat.

D. Pengembangan Manusia Sebagai Mahluk Religius Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurnadibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak,berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa diamemiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta AlamSemesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang MahaPencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.

Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencarisesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrahmanusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.

Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untukberibadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut diperoleh melalui pendidikan. Denganpendidikan, manusia dapat mengenal siapa Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengertibagaimana cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat mengerti bagaimanaseharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia dapat mengembangkan pola pikirnyauntuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalamlingkungan sehari-hari.

Maka dari keseluruhan perkembangan itu menjadi lengkap dan utuh dalam setiap sisinya, baik dari sisiindividu, sosial, susila, maupun religius. Keutuhan dari setiap sisi tersebut dapat menjadikan manusiamenjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Hubungan Manusia dengan Pendidikan / Masalah Pendidikan.

Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkanpengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untukmemungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya.

Filsafat dalam pendidikan (filsafat pendidikan) digunakan untuk memecahkan problem hidup dankehidupan manusia sepanjang perkembangannya dan digunakan untuk memecahkan problematikapendidikan masa kini.

Beberapa masalah pendidikan yang memerlukan filsafat, yaitu : Masalah pertama dan yang mendasar ialah tentang hakikat pendidikan.Mengapa pendidikan itu harus ada pada manusia. Adalah merupakan hakikat hidup dan kehidupan.Apakah hakikat manusia itu dan bagaimana hubungan antara pendidikan dengan hidup dan kehidupanmanusia?

Apakah pendidikan itu berguna untuk membina kepribadian manusia?

Apakah potensi hereditas yang menentukan kepribadian manusia?

Apakah ada faktor yang dari luar dan lingkungan, tetapi tidak berkembang dengan baik?

Apakah sebenarnya tujuan pendidikan itu? Apakah pendidikan itu untuk individu atau untuk kepentingan masyarakat?Apakah pembinaan itu untuk dan demi kehidupan riil dan material di dunia ataukah untuk kehidupan diakhirat kelak?

Siapakah hakikatnya yang bertanggung jawab atas pendidikan? Bagaimana hubungan tanggung jawab antara keluarga, masyarakat, dan sekolah terhadap pendidikan? Apakah hakikat kepribadian manusia itu?

Manakah yang lebih untuk dididik; akal, perasaan, atau kemauannya, pendidikan jasmani atau mentalnya,

pendidikan skill ataukah intelektualnya atau kesemuanya itu?

Apakah hakikat masyarakat dan bagaimana kedudukan individu dalam masyarakat? Apakah individu itu independen, ataukah dependen dalam masyarakat? Apakah isi kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal? Apakah kurikulum itu mengutamakan pembinaan kepribadian? Bagaimana metoda pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan pendidikan yang ideal? Bagaimana kepemimpinannya dan pengaturan aspek-aspek sosial paedagogis lainnya? Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik, apakah sentralisasi, desentralisasi, ataukah otonomi, apakah oleh Negara, ataukah swasta? Permasalahan-permasalahan tersebut dapat dijawab dengan analisa filsafat sebagai berikut: Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan.Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang dibekali dengan berbagai kelebihan, di antaranyakemampuan berfikir, kemampuan berperasaan, kemampuan mencari kebenaran, dan kemampuanlainnya. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak akan berkembang apabila manusia tidak mendapatkan pendidikan. Allah SWT dengan jelas memerintahkan kita untuk “IQRO” dalam surat Al-Alaq yangmerupakan kalamullah pertama pada Rosulullah SAW. Iqro di sini tidak bisa diartikan secara sempitsebagai “bacalah”, tetapi dalam arti luas agar manusia menggunakan dan mengembangkankemampuan-kemampuan yang telah Allah SWT berikan sebagai khalifah fil ardl. Sehingga pendidikanmerupakan sarana untuk melaksanakan dan perwujudan tugas manusia sebagai utusan Allah di bumiini.

Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengansesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral,intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yangditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuanakhir.

Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadiyang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang.Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpakehilangan pribadinya masing-masing. Sejak dahulu, disepakati bahwa dalam pribadi individu tumbuhatas dua kekuatan yaitu : kekuatan dari dalam (kemampuan-kemampuan dasar), Ki Hajar Dewantaramenyebutnya dengan istilah “faktor dasar” dan kekuatan dari luar (faktor lingkungan), Ki HajarDewantara

menyebutnya dengan istilah “faktor ajar”.Teori konvergensi yang berpendapat bahwa kemampuan dasar dan faktor dari luar saling memberipengaruh, kedua kekuatan itu sebenarnya berpadu menjadi satu. Si pribadi terpengaruh lingkungan, danlingkungan pun diubah oleh si pribadi. Faktor-faktor intern (dari dalam) berkembang dan hasilperkembangannya digunakan untuk mengembangkan pribadi di lingkungan. Factor dari luar danlingkungan kadang tidak berkembang dengan baik, misalnya ketika pribadi terpengaruh oleh hal-halnegatif yang timbul dari luar dirinya.

Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesamamanusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral,intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yangditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuanakhir.

Secara sederhana Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa, “Pendidikan adalah bimbingan secara sadaroleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknyakepribadian yang utama.Tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan manusia yang berkualitasyang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan GBHN1993, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur,berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional,bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air,mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargaijasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.

Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UUSPN dan PP No 29 Tahun 1990. selain pendidikan dipusatkan untuk membina kepribadian manusia, pendidikan juga diperuntukkan guna pembinaan masyarakat. Berikut adalah penjelasannya : Pengembangan kehidupan sebagai pribadi sekurang-kurangnya mencakup upaya untuk:

1) memperkuat dasar keimanan dan ketakwaan,

2) membiasakan untuk berprilaku yang baik,

3) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar,

4) memelihara kesehatan jasmani dan rohani,

5) memberikan kemampuan untuk belajar, dan membentuk kepribadian yang mantap dan mandiri.

Pengembangan kehidupan sebagai anggota masyarakat :

1) memperkuat kesadaran hidup beragama dalam masyarakat,

2) menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam lingkungan hidup,

3) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat. Pengembangan kehidupan sebagai warga Negara mencakup upaya untuk :

1) mengembangkan perhatian dan pengetahuan hak dan kewajiban sebagai warga Negara RI,

2) menanamkan rasa ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa dan Negara,

3) memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk berperan serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pengembangan kehidupan sebagai umat manusia mencakup upaya untuk :

1) meningkatkan harga diri sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat,

2) meningkatkan kesadaran tentang HAM,

3) memberikan pengertian tentang ketertiban dunia,

4) meningkatkan kesadaran tentang pentingnya persahabatan antar bangsa,

5)

mempersiapkan peserta didik untuk menguasai isi kurikulum.Pembinaan tersebut pada dasarnya dipersiapkan untuk kehidupan riil dan material di dunia sertakehidupan di akhirat kelak.

Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagaitempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan.

Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak. Keluarga yangmenghadirkan anak ke dunia, secara kodrat bertugas mendidik anak. Kebiasaan-kebiasaan yang ada dikeluarga akan sangat membekas dalam diri individu setelah individu makin tumbuh berkembang.Selanjutnya pengaruh dari sekolah dan masyarakat yang akan tertanam dalam diri anak.

Kata kepribadian berasal dari kata personality (bahasa Inggris) yang berasal dari kata persona (bahasa Latinyang berarti kedok/ topeng) yang maksudnya menggambarkan perilaku, watak/ pribadi seseorang. Halitu dilakukan oleh karena terdapat ciri-ciri yang khas yang dimiliki oleh seseorang tersebut baik dalamarti kepribadian yang baik ataupun yang kurang baik.

Kepribadian adalah suatu totalitas psikophisis yang kompleks dari individu sehingga nampak di dalam tingkah lakunya yang unik. Hal-hal yang ada pada diri individu atau pribadi manusia pada dasarnya harus mendapatkan pendidikan, yakni akal, perasaan, kemauan, pendidikan jasmani atau mental,kemampuan atau keterampilan, serta intelektualnya. Semua hal tersebut dididik guna mencapaikepribadian yang baik.

Masyarakat merupakan tempat kedua bagi individu dalam berinteraksi. Karena keluarga terdapat danberkumpul dalam suatu masyarakat. Secara sadar atau tidak keadaan masyarakat cukup memberipengaruh kepada kepribadian seseorang. Kedudukan individu dalam masyarakat merupakan kondisiatau situasi yang tidak dapat dihindari karena individu juga merupakan makhluk social yang pastimembutuhkan manusia lain dalam hidupnya. Artinya, individu itu dependen dalam masyarakat.

Kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal adalah kurikulum yang sesuai dengan perkembangandan tuntutan jaman. Kurikulum menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yangnormal. Pembinaan kepribadian merupakan kajian utama kurikulum. Materi program berupa kegiatanyang dirancang untuk meningkatkan self-esteem, motivasi berprestasi, kemampuan pemecahan masalahperumusan tujuan, perencanaan, efektifitas, hubungan antar pribadi, keterampilan berkomunikasi,keefektifan lintas budaya, dan perilaku yang bertanggung jawab.

Metode pendidikan sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pendidikan yang ideal. Metode yangtepat jika mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secarafungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuanpendidikan Islam. Guru sebagai pendidik mempunyai tanggung jawab untuk memilih, menggunakandan memberikan metode yang efektif dalam mencapai tujuan pendidikan yang tercantum dalamkurikulum. Kepemimpinan dan pengaturan aspek-aspek paedagogis harus dilakukan para pelakupendidikan guna memperlancar proses tercapainya tujuan pendidikan yang ideal.

Pengertian-pengertian : a. Sentralisasi, yaitu wewenang mengenai segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan diatur oleh pemerintah pusat. b. Desentralisasi, yaitu penyerahan wewenang pemerintahan dan pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. Otonomi Daerah, yaitu kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentinganmasyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturanperundang-undangan.

Berdasarkan pengamatan penyusun, asas penyelenggaraan pendidikan yang baik yaitu dengan otonomi,yakni segala sesuatu yang berhubungan dengan terselenggaranya proses pendidikan diatur dandilaksanakan oleh daerah otonom berdasarkan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa danaspirasi masyarakat, sehingga kelak para pelaku pendidikan mampu mengembangkan segalakompetensi di daerah tempat mereka hidup.

 BAB III. PENUTUP

Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengansesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral,intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yangditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.

Pendidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dankehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklahpribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang.Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilanganpribadinya masing-masing.

Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dansekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagaitempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak.

di copy dari http://www.scribd.com/doc/23184553/Laporan-Hubungan-Manusia-Dengan-Pendidikan


Categories: Pendidikan, Tugas-tugas

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments